@ 090906
Batu itu tersenyum, memanggilnya perlahan. Bergeser ragu, menitih rasa. Sejauh ini ku masih ingat kata-kata itu. Berjalan menyusuri samudra keheningan, sesaat ia tenggelam, kelam tanpa napas. Berenang lebih dalam menelaah sejengkal harap. Memintanya tersenyum sejenak, bukan di bibir senyumnya, tapi dalam relung kalbumu. Perlahan terikrar kebencian, namun diiringi aroma kasih. Sayang pun mengikutinya, merangkak tertuju pada tatap mata. Memandangnya sejenak jauh tanpa jarak lebih dekat daripada dasar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar