Sabtu, 19 Juni 2010

B 0002 NY




Malam ketika aku hendak berangkat ke laga pertempuran
Laga yang menentukan hidup matiku semester kedepan
Saat itu aku masih berbenah
Hingga sampai detik aku menemukan paper itu
Paper nan elok terurai tulisanmu nan magis
Mampu menyihirku berdiang beberapa saat pada masa lampau
Masa nan mengharu biru

Dengan sedikit tertatih
Ku baca tulisanmu begitu rapih

"Duhai Tuhan, di sekujur tubuhku mengalir rasa itu lagi."
"Tak bisakah Kau menghentikan sejenak?"
"Agar aku mampu mengkhatamkannya."

Kembali tertatih
Ku baca tulisanmu begitu rapih

Dimana kau menulis hal-hal tentangku
Tentang sedikit kisah kita
Tentang harapan-harapanmu padaku
Kau juga menulis kembali puisi itu
Puisi yang dulu ku kumandang padamu

Sungguh kau benar-benar "candu bagiku"

Seakan tak berdaya 'tuk ku lanjutkan lembar-lembar selanjutnya
Ku dibawa hanyut oleh alam di bawah sadarku
Tak mampu berenang menepi dari semua itu

"Tuhan, tolong sadarkan aku."
"Makin hanyut nan tenggelam."
"Beri aku pelampung."

Hingga lembar terakhir
Relung hatiku berbisik lirih
"Berdosa aku masih merindumu ketika aku tlah menjadi miliknya"
"Dan mungkin kau pun juga"

Sesaat setelah aku usai
Ku buka kotak itu
Masih tergeletak rapih si mrh disitu
Kulo comot dia
Seperti kau tau kebiasaanku perlakuanku padanya
Tak perlu ku uraikan lagi

Hingga malam, ku tutup semua
Terlelap ku dalam tidur

Pagi menjelang
Ponselku berdetak
Nomor tanpa label menghiasi layar ponselku
Ku angkat
Ku sapa dengan salamku
Tak ku dapat sahut salamku
Aku pun ikut terdiam
Orang di seberang sana tak mengucap setitik katapun
Entah apa maunya

Beberapa menit berjelaga di keheningan
Akhirnya, seseorang di seberang sana mengucap secerca kata
Dalam benakku berkabut
Aku kenal kekentalan suara ini
Itukah dia?
Dia nan semalam menyihirku dengan sebongkah kenangan

Ya Tuhan, betapa terperanjatnya aku
Kebetulan ataukah Ikatan?
Batin nan sudah terikat mawut

Detik demi detik mengalir pelan
Kudengarkan kekhusyukan suaranya

Derai kisahnya menghujaniku
Derai tanyaku menelanjanginya
Hingga terkuak semua
Prasangka itu disangkal manis olehnya
Terjawab masuk akal semua

Ya Tuhan, dia bisa berurai dengan candaan khasnya
Lanjut giliranku menjejalinya dengan beberapa kisahku

Hingga waktu pembicaraan itu usai
Dan aku kembali pada aktivitasku tanpa dia

Pada pagi selanjutnya
Ponselku kembali berdetak
Dua panggilan tak terjawab menghiasi layar
Yang ketiga kuangkat, dia lagi yang di ujung sana

Tuhan, apa maksud dari semua itu?
Kenapa dia selalu datang tepat
Tepat ketika ada hati yang menyelamiku
Walau statusku tak bebas lagi

Apa dia makhluk yang Kau utus?
Tuk menjagaku dari hati-hati nan tulus itu?
Bukan hanya sekali fenomena ini

Apa Kau tak rela Tuhan?
Tuk aku benar-benar menjamah hutan hati itu?

Entahlah Tuhan
Sering aku susah membaca isyarat-Mu


"Semoga dengan ini aku bisa lebih paham akan isyarat-Mu"

Tidak ada komentar: