Seharusnya ada banyak cerita, tapi entah mengapa seakan kelu jari ini untuk ngetik huruf demi kata hingga kalimat tersusun rapi menjadi paragraf. "Entahlah?!" "Bagian mana yang janggal?" Bisikku dalam kalbu. Masih sama seperti biasa, selepas seharian beraktivitas makan pulanglah saya ke peraduan. Sejenak menghirup aroma khas kamarku yang menyejukkan jiwa. Tergelataklah raga ini di kasur sederhana tetapi super nyaman bagi sekujur badanku. Sambil menerawang ke langit-langit rumah yang terbungkus plafon putih bersih suci tinggi (Syaaah udah kayak lagu) aku terbawa ke alam bawah sadar sampai menuju era nun jauh disana hingga aku benar-benar tak sadarkan diri. "Mbak bangun! Udah maghrib nih." Seru adikku membangunkan lamunanku yang ternyata aku sudah tertidur dari entah puluhan menit yang lalu atau ratusan detik yang lalu. Tak mau berlama-lama aku pun langsung beranjak bangun berbenah diri lalu menuju kamar mandi untuk mandi sekaligus wudhu kemudian bergegas menunaikan sholat maghrib. Selesai menunaikan sholat maghrib, tiba-tiba adikku memanggilku lagi. "Mbak!" Kali ini teriakan adikku lebih kencang dari biasanya. "Udah maghrib kan mbak?" "Sini bantuin aku bikin prakarya." Teriaknya lagi. Aku langsung bergegas menghampirinya. Ia yang sudah selesai maghrib duluan daripada aku, sudah terlihat riuh dengan koran bekas yang akan dijadikan prakaryanya. Aku tak banyak bertanya langsung ikut andil di keriuhannya dengan koran bekas tadi karena beberapa hari lalu aku sudah pernah membantu adikku dengan prakaryanya. Kita larut dalam keriuhan bersama koran bekas itu sambil sesekali melayangkan lawakan jadul ala kita. Tangan- tangan yang cekatan memberi sentuhan pada koran bekas dan mata penuh dengan canda diiringi mulut yang tak henti bergurau sambil menyimpulkan senyum di bibir kami masing-masing. Jam di dinding berdentang 10 kali pertanda pukul 10:00 telah larut di keriuhan koran bekas yang nantinya kita sebut dengan prakarya. Kita bergegas merampungkan prakarya ini karena sudah larut malam dan kita belum isya. Pukul 22:30 kita khatam dengan keriuhan koran bekas. Jreng jadilah prakarya. Lanjut berbenah dan menunaikan sholat isya lalu tidur dengan senyum. Well done! Thanks God.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar